+ Apa yang membuat malaikat mau bersujud kepada
Adam?
- Karena
manusia memiliki akal untuk berfikir sehingga memiliki ilmu pengetahuan.
Allah swt dalam firman-Nya,
akan meninggikan derajat manusia diatas derajat malaikat ketika ia beriman dan
bertaqwa dengan akalnya, dan akan merendahkan derajat manusia
serendah-rendahnya bahkan lebih rendah dari derajat binatang saat manusia tidak
mengendalikan nafsu dengan akalnya.
Jadi pantaslah orang-orang
yang tidak menggunakan akalnya itu disamakan dengan binatang bahkan lebih
rendah dari itu. Mengedepankan nafsu atau keegoisannya sehingga lalai bahwa ia
memiliki akal. Mengakibatkan orang lain merasa ikut dirugikan. Seperti hewan
yang suka buang kotoran sembarangan, tidak menghiraukan apakah kotorannya itu
mengganggu atau tidak, yang penting nafsu buang hajatnya terpenuhi. Mungkin
lebih rendah dari itu, karena masih ada sebagian binatang yang tidak membuang
kotorannya dengan sembarangan.
Lantas apakah yang dimaksud
dengan akal itu sendiri? Akal bukanlah otak. Otak adalah organ dimana binatang
pun memilikinya. Sementara akal adalah kemampuan berfikir, sedangkan otak
adalah komponen untuk berfikir. Jika disebut ada akal sehat, pastilah ada akal
sakit. Akal sakit bukan berarti akal yang dimiliki oleh orang yang sedang
sakit. Bahkan orang sakitpun masih mampu berfikir bagaimana usaha agar penyakit
itu tidak bertambah parah. Karena ia masih mampu berfikir agar tidak
terus-terusanan merepotkan orang disekitarnya. Lalu seperti apa yang dimaksud
dengan akal yang sakit? Menurut hemat saya, orang yang akalnya sakit adalah
mereka yang tidak mau berfikir atau malas berfikir, hanya mementingkan nafsu
dan keegoisannya, sehingga akalnya tidak terlatih untuk berfikir. Seperti
halnya tubuh yang malas berlatih dan berolahraga, maka daya imunnya akan lemah
atau mudah sakit. Perumpamaan sebuah pisau, jika tidak diasah akan tumpul dan
berkarat, tidak bisa lagi digunakan bahkan karatnya berbahaya.
Banyak yang mendefinisikan
orang yang tidak berakal sehat adalah orang gila. Orang gila tidak sama dengan
orang yang terbelakang mentalnya. Orang gila dulunya adalah orang normal. Hanya
karena lemahnya iman mereka, sehingga mereka tidak mampu menerima keadaan
dirinya. Jika kita telaah lebih jauh lagi sekitar kita, banyak masalah yang
timbul dikarenakan manusia-manusia yang tidak mau atau malas berfikir cerdas.
Apakah yang membedakan sekedar berfikir dengan berfikir cerdas? Menurut hemat
saya, orang yang sekedar berfikir hanya berfikir untuk dirinya, sekedar apa
yang dilakukannya baik untuk dirinya dan tidak merugikan orang lain. Sementara
berfikir cerdas adalah mereka yang mau berfikir untuk orang lain. Apa yang ia
lakukan akan berdampak baik untuk dirinya maupun orang lain, manfaatnya dapat
dirasakan oleh orang lain. Seperti dalam salah satu ayat-nya "sebaik-baik
manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain"
Kita manusia yang masih mampu
berfikir, gunakanlah akalmu untuk kemaslahatan bersama. Fikirkanlah setiap
langkah yang akan kau tapaki, jangan sampai kaki ini menginjak duri. Hidup yang
kita jalani adalah keputusan yang kita ambil.