Tidak ada yang memungkiri kekuatan terbesar dalam hidup ini adalah cinta, kasih sayang. Karena cinta dan kasih sayang dari orang tua, kita dapat hadir dalam kehidupan di dunia ini. Tidak sedikit kasus aborsi, pembuangan bayi, disebabkan tidak lain karena tidak adanya rasa cinta dan kasih dari orangtua dengan alasan itu adalah aib. Jika sudah tau itu adalah hasil dari perbuatan yang salah, kenapa masih saja terjerumus, malah kadang ada yang mengatas namakan cinta perbuatan keji itu (diluar konteks kasus pemaksaan). Juga pemaknaan dan pengungkapan cinta yang salah. Betapa banyak pelajar SD dan SMP yang terjerumus pada makna cinta, dimana seharusnya mereka belajar dengan baik, akibatnya prestasi belajar menurun, yang selanjutnya dapat menjerumuskan pada tindakan kecurangan dalam belajar.
Bukti lain kekuatan sebuah cinta yaitu pengorbanan para pejuang untuk memerdekaan negara, tidak lain berlandaskan rasa cinta mereka terhadap tanah airnya. Tidak rela negara ini di ambil laih oleh orang asing. Tetapi sepertinya rasa cinta itu kini makin pudar dalam diri anak bangsa. Kini penjajahan itu berasal dari konflik internal. Terlalu banyak adu domba demi fanatisme atau kepentingan politik juga SARA. Saya tidak akan membicarakan tentang kekacauan di negeri ini. Yang jelas kebijakan yang hakiki berasal dari logika dan nurani. Berhati-hatilah dalam berargumen atau menulis opini, jika memang tidak yakin dengan apa yang diungkapkan, lebih baik tidak perlu diungkapkan, daripada di masa depan menanggung alasan "kurang tau/ asal share".
Sebelumnya saya telah memposting kutipan buku tentang tingkatan dan definisi cinta (bisa lihat disini: triangular love). Dijelaskan bahwa cinta sempurna terbentuk dari intimacy, passion dan commitment. Jika salah satunya telah pudar, maka dapat dipastikan sebuah hubungan tidak harmonis dan dapat berujung pada perpisahan. Sebut saja sebuah keluarga yang telah cukup lama bersama. Ada kalanya karena keegoisan dari keduanya atau salah satu, dampaknya dirasakan oleh anaknya. Sebut saja keadaaan broken home. Tujuan hidup bahagia tidak terpenuhi begitu pula hak seorang anak. Yang seharusnya potret kedua orang tua menjadi teladan bagi si anak, perseteruan dan perdebatan menjadi makanan sehari-hari sang anak. Jelas hal ini mempengaruhi perkembangan psikis seorang anak. Maka tidak heran jika seorang anak dari brokenhome cenderung mencari sebuah pelarian. Misal saja, sering menghabiskan waktu di internet, bergaul dengan preman, yang jelas mencari sesuatu untuk melupakan kepenatan di rumah, tempat yang seharusnya menjadi ruang untuk kembali. Hingga akhirnya terlahirlah anak-anak nakal, anak-anak homeless, anak-anak yang tidak tahu kemana ia harus melangkah untuk kehidupan esok. Selanjutnya sebuah kekacauan dalam keluarga tersebut dapat berakibat tidak ada atau kurangnya perhatiannya kedua orangtua terhadap pemahaman dan pergaulan seorang anak. Yang mana dapat berakibat pada insiden-insiden yang disebutkan pada alenia pertama. Disini dapat disimpulkan bagaimana pupusnya sebuah cinta dapat merusak dan menghancurkan sebuah pribadi, sama artinya telah menghancurkan harapan seorang anak bangsa.
Lalu bagaimana mengatasi pupusnya sebuah cinta? Kita tidak pernah bisa memutar waktu. Jika kita adalah korban, yang bisa kita lakukan adalah berusaha agar hal itu tidak terulang lagi, berusaha bagaimana agar keegoisan kita tidak berdampak pada satu pribadi selanjutnya, berusaha memutuskan rantai penghancur. Suatu kewajaran jika suatu saat nanti, diluar kendali kita memperlakukan seorang anak seperti halnya orangtua memperlakukan kita. Jika kita memang tidak mendapatkan ilmu parenting dari mereka, bukan berarti kita hopeless. Ilmu parenting dapat dicari, dapat dipelajari dari buku-buku maupun kehidupan orang lain. Yang jelas kita tidak memiliki hak untuk menghancurkan kehidupan baru.
"Sebuah Peradaban sejatinya dimulai dari peradaban kecil bernama keluarga. Jika ingin membangun sebuah peradaban, mulai lah dari membangun keluarga, membangun jasad dan ruh keluarga." (kutipan dari https://dianramadhani.wordpress.com/2016/11/06/membangun-peradaban-sebuah-refleksi-diri-nhw3iip/)
Bukti lain kekuatan sebuah cinta yaitu pengorbanan para pejuang untuk memerdekaan negara, tidak lain berlandaskan rasa cinta mereka terhadap tanah airnya. Tidak rela negara ini di ambil laih oleh orang asing. Tetapi sepertinya rasa cinta itu kini makin pudar dalam diri anak bangsa. Kini penjajahan itu berasal dari konflik internal. Terlalu banyak adu domba demi fanatisme atau kepentingan politik juga SARA. Saya tidak akan membicarakan tentang kekacauan di negeri ini. Yang jelas kebijakan yang hakiki berasal dari logika dan nurani. Berhati-hatilah dalam berargumen atau menulis opini, jika memang tidak yakin dengan apa yang diungkapkan, lebih baik tidak perlu diungkapkan, daripada di masa depan menanggung alasan "kurang tau/ asal share".
Sebelumnya saya telah memposting kutipan buku tentang tingkatan dan definisi cinta (bisa lihat disini: triangular love). Dijelaskan bahwa cinta sempurna terbentuk dari intimacy, passion dan commitment. Jika salah satunya telah pudar, maka dapat dipastikan sebuah hubungan tidak harmonis dan dapat berujung pada perpisahan. Sebut saja sebuah keluarga yang telah cukup lama bersama. Ada kalanya karena keegoisan dari keduanya atau salah satu, dampaknya dirasakan oleh anaknya. Sebut saja keadaaan broken home. Tujuan hidup bahagia tidak terpenuhi begitu pula hak seorang anak. Yang seharusnya potret kedua orang tua menjadi teladan bagi si anak, perseteruan dan perdebatan menjadi makanan sehari-hari sang anak. Jelas hal ini mempengaruhi perkembangan psikis seorang anak. Maka tidak heran jika seorang anak dari brokenhome cenderung mencari sebuah pelarian. Misal saja, sering menghabiskan waktu di internet, bergaul dengan preman, yang jelas mencari sesuatu untuk melupakan kepenatan di rumah, tempat yang seharusnya menjadi ruang untuk kembali. Hingga akhirnya terlahirlah anak-anak nakal, anak-anak homeless, anak-anak yang tidak tahu kemana ia harus melangkah untuk kehidupan esok. Selanjutnya sebuah kekacauan dalam keluarga tersebut dapat berakibat tidak ada atau kurangnya perhatiannya kedua orangtua terhadap pemahaman dan pergaulan seorang anak. Yang mana dapat berakibat pada insiden-insiden yang disebutkan pada alenia pertama. Disini dapat disimpulkan bagaimana pupusnya sebuah cinta dapat merusak dan menghancurkan sebuah pribadi, sama artinya telah menghancurkan harapan seorang anak bangsa.
Lalu bagaimana mengatasi pupusnya sebuah cinta? Kita tidak pernah bisa memutar waktu. Jika kita adalah korban, yang bisa kita lakukan adalah berusaha agar hal itu tidak terulang lagi, berusaha bagaimana agar keegoisan kita tidak berdampak pada satu pribadi selanjutnya, berusaha memutuskan rantai penghancur. Suatu kewajaran jika suatu saat nanti, diluar kendali kita memperlakukan seorang anak seperti halnya orangtua memperlakukan kita. Jika kita memang tidak mendapatkan ilmu parenting dari mereka, bukan berarti kita hopeless. Ilmu parenting dapat dicari, dapat dipelajari dari buku-buku maupun kehidupan orang lain. Yang jelas kita tidak memiliki hak untuk menghancurkan kehidupan baru.
"Sebuah Peradaban sejatinya dimulai dari peradaban kecil bernama keluarga. Jika ingin membangun sebuah peradaban, mulai lah dari membangun keluarga, membangun jasad dan ruh keluarga." (kutipan dari https://dianramadhani.wordpress.com/2016/11/06/membangun-peradaban-sebuah-refleksi-diri-nhw3iip/)