Terlahir sebagai seorang
perempuan, keberadaanya di luar rumah menjadi serba salah, terlebih lagi dalam
keadaan seorang diri. Dalam Islam dijelaskan bahwa seorang perempuan
memiliki keistimewaan yaitu memiliki seorang penjaga. Dikala sebelum menikah
ayahlah penjaganya dan setelah menikah suaminya adalah penjaganya. Tidak disangkal
ketika seorang perempuan keluar rumah seorang diri, dikhawatirkan tentang
keselamatannya baik secara rohani maupun jasmaninya.
Sebuah pengalaman pribadi, ketika
seorang perempuan berjalan seorang diri di luar, maka bukan tidak mungkin dia
akan menjadi ‘mangsa’ para lelaki diluar sana. Dalam ilmu psikologi yang pernah
saya dengar, seorang lelaki yang berhasil menggoda seorang perempuan di jalan,
dia akan merasakan ‘kenikmatan’ tersendiri. Banyak kutipan yang pernah saya baca, bahwa
kenakalan para lelaki itu dipicu oleh penampilan dari si perempuan. Saya bisa
memakumi jika seorang perempuan di jalan dengan pakaian terbuka mendapatkan
sebuah siulan. Hanya saja yang tidak habis saya fikir, sebagai seorang
perempuan muslim yang keluar rumah seorang diri dengan pakaian yang cukup sopan,
tertutup bahkan tidak mencolok, tetap saja mendapatkan gangguan. Hanya saja
gangguan mereka ubah lebih halus, yaitu dengan memberi salam. Saya pun sangsi,
masihkah ada kewajiban bagi saya menjawab salam mereka, ketika apa yang mereka
ucapkan tidak sesuai dengan makna do’a yang terkandung didalamnya. Terkadang
karena kesalnya, saya sangat ingin menghampiri para lelaki itu, dan menanyakan
bagaimana jika hal seperti itu terjadi kepada anak perempuan mereka, saudara perempuan mereka, istri
mereka atau ibu mereka. Ingatlah, terkadang perbuatan buruk kalian dapat
berdampak kepada orang-orang terdekat kalian sebagai sebuah karma.
Sangat riskan memang seorang
perempuan yang keluar rumah seorang diri. Akan tetapi saya kurang setuju jika peran
penjaga seorang ayah (bagi yang belum menikah) mereka gantikan dengan seorang
lawan jenis yang belum halal. Cintailah ayah kalian para perempuan, dengan
menjadikan teman perempuan sebagai pengganti sementara perannya. Oleh karena
itu, hanya sebuah himbuan kepada para perempuan mandiri yang masih memegang
teguh perintah-Nya, jika memang kalian terpaksa karena hal mendesak harus
keluar seorang diri, keluarlah di waktu yang tepat dan lewatlah tempat-tempat
yang aman. Kenali betul waktu dan tempatnya.
Saya sebagai salah satu seorang
perempuan mandiri, pasti terlintas pertanyaan kenapa saya masih sering keluar
seorang diri di luar rumah, tidakkan ada teman yang bisa menemani. Hanya saja
saya mempunyai prinsip bahwa saya tidak ingin cengeng, tidak ingin mudah
bergantung atau merepotkan orang lain. Saya sadari di luar sana banyak lelaki
mata keranjang yang dapat sewaktu-waktu melontarkan gangguan. Tetapi saya juga
meyakini bahwa di luar sana juga banyak lelaki yang jumlahnya jauh lebih
banyak, yang mempersilahkan jalan itu leluasa dilalui oleh kami. Dan kami pun
percaya, walaupun tidak ada seorang penjaga disamping kami, masih ada penjaga
sejati yang akan menjamin keselamatan kami. Maka ibu saya tidak pernah
lupa mengingatkan saya untuk senantiasa memohon keselamatan kepada yang di
atas, dimana pun saya berada.
Teruntuk para perempuan mandiri di luar sana. Jangan mudah menyerah
untuk mencapai tujuanmu hanya dikarenakan dirimu tidak memiliki penjaga. Ingatlah
bahwa masih ada yang Maha Penjaga.