Thursday, December 8, 2016

Surat Kepada Presiden

Bapak presiden yang terhormat.
Perkenankan saya menyampaikan yang ada dalam benak saya. Sekedar untuk mengingatkan dan semoga yang saya sampaikan dapat bermanfaat. Saya bukanlah orang yang cakap akan politik. Tapi saya akan mencoba untuk menyampaikan pandangan-pandangan saya sebagai sesama manusia, dimana tabiat manusia yang jauh dari kata sempurna tak pernah luput dari khilaf, dan kita terhadap sesama manusia wajib untuk saling mengingatkan Tulisan ini saya tujukan kepada Bapak khususnya, dan para pembaca pada umumnya, dan yang paling utama adalah introspeksi bagi diri saya sendiri.

Bapak presiden yang terhormat.
Setahun sudah Bapak menjadi orang nomor satu di Indonesia dan menduduki kursi pemerintahan. Saya salut kepada Bapak yang memiliki keberanian besar untuk memimpin lebih dari duaratus juta jiwa, saat Bapak memutuskan untuk maju sebagai calon presiden pada pemilu tahun lalu. Saat bapak terpilih secara mutlak sebagai presiden, itu artinya lebih dari setengah rakyat Indonesia mempercayakan pemerintahan ditangan Bapak. Sebuah kepercayaan yang pasti sulit didapatkan jika seseorang itu biasa-biasa saja. Rakyat Indonesia percaya bahwa Bapak mampu memimpin, membawa negara ini menjadi negara yang lebih baik, permasalahan ekonomi, hukum, sosial dapat ditangani.

Bapak presiden yang terhormat.
Sembilan janji Bapak tuturkan untuk Indonesia lebih baik, janji-janji lebih dikenal dengan sebutan Nawacita. Akan tetapi masih terlalu dini jika menagih janji dalam masa pemerintahan yang masih berjalan satu tahun ini. Tetapi pula dalam pemerintahan yang telah  berjalan satu tahun ini, dapat dilihat bagaimana kinerja pemerintahan. Telah banyak bermunculan, tidak hanya satu atau dua, tulisan, artikel, poster yang mengkritisi kinerja Bapak. Dalam hal mengkritisi, saya pribadi tidak pantas mengkritik selama saya belum bisa jadi pribadi yang kebal akan kritikan, selama saya belum bisa jadi rakyat yang baik. Ibarat sebuah benda akan lebih mudah berjalan jika di tarik dari depan dan didorong dari belakang. Maka tarkala pemerintah berusaha memberantas kemiskinan misalnya, maka rakyat jelata juga harus berusaha beranjak dari kemiskinan tersebut. Oleh karena itu, saya mengajak Bapak dan setiap pribadi untuk senantiasa mengkoreksi diri sendiri. Karena saya yakin jika setiap pribadi bangsa Indonesia, dari rakyat jelata hingga para pejabat, dalam satu garis senantiasa mengkoreksi dan memperbaiki diri, berpegang teguh pada aturan agama, aturan fundamental dalam membentuk karakter tiap pribadi, maka bukan tidak mungkin bangsa Indonesia ini akan menjadi bangsa yang jaya. Jika hal ini dapat terwujud, maka seharusnya tidak ada lagi para koruptor, kasus pidana, dan macam kejahatan lainnya. Maka pemerintah tinggal menyelesaikan masalah bencana, pembangunan, kesehatan dan pendidikan yang belum merata.

Bapak presiden yang terhormat.
Kinerja presiden merupakan reperesentasi sebuah negara tersebut. Maka tidak salah jika suatu permasalahan negara kepada Bapaklah tempat mengadukannya. Adapun bentuk pengaduan kami berupa kritikan. Kritikan tersebut bukan untuk menjatuhkan Bapak, melainkan mengingatkan Bapak, karena kami peduli dengan bangsa ini. Kami tidak ingin bangsa ini terpuruk, kami yakin begitu pula dengan Bapak. Oleh karena itu perkenankan kami menyuarakan suara kami. Dengarkan kritikan-kritikan yang membangun. Jikalau diluar sana banyak umpatan dan hujatan, abaikanlah. Tapi sekali lagi jangan Bapak abaikan suara kami yang ingin ikut membangun bangsa ini. Siapa tahu ide-ide kami, suara-suara kami dapat membantu Bapak dalam memberi solusi menyelesaikan permasalahan-permasalahan negara.

Bapak presiden yang terhormat.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya, seluruh dunia pun mengakui hal itu. Kaya akan sumber daya alam, hutan, tambang. Kita tahu bangsa Indonesia bukanlah bangsa bodoh, terbukti banyak lulusan profesor dari berbagai perguruan tinggi di luar negeri. Bangsa kita bodoh karena mau di ekploitasi sumber daya alamnya oleh pihak asing. Negara lebih memilih melakukan berbisnis dengan pihak asing untuk mengelola sumber daya alamnya. Padahal tidak sedikit tenaga ahli bangsa sendiri yang lihai dalam bidang itu. Lalu, Bapak kemanakan lulusan-lulusan yang telah negara biayai untuk belajar ke negera yang lebih maju teknoginya. Apakah lulusan-lulusan ini yang enggan mengurus sumber daya alam dalam negeri ataukah dari pihak negara yang tidak memberikan peluang atau izin untuk turut mengelola. Cukuplah asap kebakaran hutan menjadi teguran dari Yang Maha Kuasa, menjadi pelajaran untuk tidak lagi mengizinkan keserakahan para pengusaha dan pebisnis.

Bapak presiden yang terhormat.
Saya setuju belum saatnya untuk sekarang mengambil sebuah kesimpulan apakah pemerintahan yang Bapak pimpin gagal atau berhasil. Karena akan masih ada premis-premis bermunculan dalam empat tahun pemerintahan Bapak kedepannya. Maka, Bapak presiden yang terhormat, buatlah premis-premis yang mengandung kalimat tentang ‘telah berhasil menyelesaikan masalah a, b dan seterusnya’ dalam sisa kepemerintahan Bapak yang masih panjang ini. Saya disini, sebagai warga biasa, sebagai rakyat jelata, hanya dapat memberikan dukungan dan senantiasa mendoakan bangsa Indonesia ini menuju kemerdekaan yang hakiki dibawah pemerintahan Bapak maupun pemerintahan selanjutnya.

Sebuah tulisan dari seorang awam politik, tepatnya satu tahun lalu, yang awalnya mau ikut nulis buat bukunya Kastrat, tapi apa daya ternyata ke-skip. Dari pada berlumut didalem laptop, akhirnya share disini aja deh.

No comments:

Post a Comment