Bapak presiden yang terhormat.
Perkenankan saya menyampaikan
yang ada dalam benak saya. Sekedar untuk mengingatkan dan semoga yang saya
sampaikan dapat bermanfaat. Saya bukanlah orang yang cakap akan politik. Tapi
saya akan mencoba untuk menyampaikan pandangan-pandangan saya sebagai sesama
manusia, dimana tabiat manusia yang jauh dari kata sempurna tak pernah luput
dari khilaf, dan kita terhadap sesama manusia wajib untuk saling mengingatkan
Tulisan ini saya tujukan kepada Bapak khususnya, dan para pembaca pada umumnya,
dan yang paling utama adalah introspeksi bagi diri saya sendiri.
Bapak presiden yang terhormat.
Setahun sudah Bapak menjadi orang
nomor satu di Indonesia dan menduduki kursi pemerintahan. Saya salut kepada
Bapak yang memiliki keberanian besar untuk memimpin lebih dari duaratus juta
jiwa, saat Bapak memutuskan untuk maju sebagai calon presiden pada pemilu tahun
lalu. Saat bapak terpilih secara mutlak sebagai presiden, itu artinya lebih
dari setengah rakyat Indonesia mempercayakan pemerintahan ditangan Bapak.
Sebuah kepercayaan yang pasti sulit didapatkan jika seseorang itu biasa-biasa
saja. Rakyat Indonesia percaya bahwa Bapak mampu memimpin, membawa negara ini
menjadi negara yang lebih baik, permasalahan ekonomi, hukum, sosial dapat ditangani.
Bapak presiden yang terhormat.
Sembilan janji Bapak tuturkan untuk
Indonesia lebih baik, janji-janji lebih dikenal dengan sebutan Nawacita. Akan
tetapi masih terlalu dini jika menagih janji dalam masa pemerintahan yang masih
berjalan satu tahun ini. Tetapi pula dalam pemerintahan yang telah berjalan satu tahun ini, dapat dilihat
bagaimana kinerja pemerintahan. Telah banyak bermunculan, tidak hanya satu atau
dua, tulisan, artikel, poster yang mengkritisi kinerja Bapak. Dalam hal
mengkritisi, saya pribadi tidak pantas mengkritik selama saya belum bisa jadi
pribadi yang kebal akan kritikan, selama saya belum bisa jadi rakyat yang baik.
Ibarat sebuah benda akan lebih mudah berjalan jika di tarik dari depan dan
didorong dari belakang. Maka tarkala pemerintah berusaha memberantas kemiskinan
misalnya, maka rakyat jelata juga harus berusaha beranjak dari kemiskinan
tersebut. Oleh karena itu, saya mengajak Bapak dan setiap pribadi untuk
senantiasa mengkoreksi diri sendiri. Karena saya yakin jika setiap pribadi
bangsa Indonesia, dari rakyat jelata hingga para pejabat, dalam satu garis
senantiasa mengkoreksi dan memperbaiki diri, berpegang teguh pada aturan agama,
aturan fundamental dalam membentuk karakter tiap pribadi, maka bukan tidak
mungkin bangsa Indonesia ini akan menjadi bangsa yang jaya. Jika hal ini dapat
terwujud, maka seharusnya tidak ada lagi para koruptor, kasus pidana, dan macam
kejahatan lainnya. Maka pemerintah tinggal menyelesaikan masalah bencana,
pembangunan, kesehatan dan pendidikan yang belum merata.
Bapak presiden yang terhormat.
Kinerja presiden merupakan
reperesentasi sebuah negara tersebut. Maka tidak salah jika suatu permasalahan
negara kepada Bapaklah tempat mengadukannya. Adapun bentuk pengaduan kami
berupa kritikan. Kritikan tersebut bukan untuk menjatuhkan Bapak, melainkan
mengingatkan Bapak, karena kami peduli dengan bangsa ini. Kami tidak ingin
bangsa ini terpuruk, kami yakin begitu pula dengan Bapak. Oleh karena itu
perkenankan kami menyuarakan suara kami. Dengarkan kritikan-kritikan yang
membangun. Jikalau diluar sana banyak umpatan dan hujatan, abaikanlah. Tapi
sekali lagi jangan Bapak abaikan suara kami yang ingin ikut membangun bangsa
ini. Siapa tahu ide-ide kami, suara-suara kami dapat membantu Bapak dalam
memberi solusi menyelesaikan permasalahan-permasalahan negara.
Bapak presiden yang terhormat.
Bangsa Indonesia adalah bangsa
yang kaya, seluruh dunia pun mengakui hal itu. Kaya akan sumber daya alam, hutan,
tambang. Kita tahu bangsa Indonesia bukanlah bangsa bodoh, terbukti banyak
lulusan profesor dari berbagai perguruan tinggi di luar negeri. Bangsa kita
bodoh karena mau di ekploitasi sumber daya alamnya oleh pihak asing. Negara
lebih memilih melakukan berbisnis dengan pihak asing untuk mengelola sumber
daya alamnya. Padahal tidak sedikit tenaga ahli bangsa sendiri yang lihai dalam
bidang itu. Lalu, Bapak kemanakan lulusan-lulusan yang telah negara biayai
untuk belajar ke negera yang lebih maju teknoginya. Apakah lulusan-lulusan ini
yang enggan mengurus sumber daya alam dalam negeri ataukah dari pihak negara
yang tidak memberikan peluang atau izin untuk turut mengelola. Cukuplah asap
kebakaran hutan menjadi teguran dari Yang Maha Kuasa, menjadi pelajaran untuk
tidak lagi mengizinkan keserakahan para pengusaha dan pebisnis.
Bapak presiden yang terhormat.
Saya setuju belum saatnya untuk
sekarang mengambil sebuah kesimpulan apakah pemerintahan yang Bapak pimpin gagal
atau berhasil. Karena akan masih ada premis-premis bermunculan dalam empat
tahun pemerintahan Bapak kedepannya. Maka, Bapak presiden yang terhormat,
buatlah premis-premis yang mengandung kalimat tentang ‘telah berhasil menyelesaikan
masalah a, b dan seterusnya’ dalam sisa kepemerintahan Bapak yang masih panjang
ini. Saya disini, sebagai warga biasa, sebagai rakyat jelata, hanya dapat
memberikan dukungan dan senantiasa mendoakan bangsa Indonesia ini menuju kemerdekaan
yang hakiki dibawah pemerintahan Bapak maupun pemerintahan selanjutnya.
No comments:
Post a Comment