Thursday, May 4, 2017

Tentang Cinta

Tidak ada yang memungkiri kekuatan terbesar dalam hidup ini adalah cinta, kasih sayang. Karena cinta dan kasih sayang dari orang tua, kita dapat hadir dalam kehidupan di dunia ini. Tidak sedikit kasus aborsi, pembuangan bayi, disebabkan tidak lain karena tidak adanya rasa cinta dan kasih dari orangtua dengan alasan itu adalah aib. Jika sudah tau itu adalah hasil dari perbuatan yang salah, kenapa masih saja terjerumus, malah kadang ada yang mengatas namakan cinta perbuatan keji itu (diluar konteks kasus pemaksaan). Juga pemaknaan dan pengungkapan cinta yang salah. Betapa banyak pelajar SD dan SMP yang terjerumus pada makna cinta, dimana seharusnya mereka belajar dengan baik, akibatnya prestasi belajar menurun, yang selanjutnya dapat menjerumuskan pada tindakan kecurangan dalam belajar.

Bukti lain kekuatan sebuah cinta yaitu pengorbanan para pejuang untuk memerdekaan negara, tidak lain berlandaskan rasa cinta mereka terhadap tanah airnya. Tidak rela negara ini di ambil laih oleh orang asing. Tetapi sepertinya rasa cinta itu kini makin pudar dalam diri anak bangsa. Kini penjajahan itu berasal dari konflik internal. Terlalu banyak adu domba demi fanatisme atau kepentingan politik juga SARA. Saya tidak akan membicarakan tentang kekacauan di negeri ini. Yang jelas kebijakan yang hakiki berasal dari logika dan nurani. Berhati-hatilah dalam berargumen atau menulis opini, jika memang tidak yakin dengan apa yang diungkapkan, lebih baik tidak perlu diungkapkan, daripada di masa depan menanggung alasan "kurang tau/ asal share".

Sebelumnya saya telah memposting kutipan buku tentang tingkatan dan definisi cinta (bisa lihat disini: triangular love). Dijelaskan bahwa cinta sempurna terbentuk dari intimacy, passion dan commitment. Jika salah satunya telah pudar, maka dapat dipastikan sebuah hubungan tidak harmonis dan dapat berujung pada perpisahan. Sebut saja sebuah keluarga yang telah cukup lama bersama. Ada kalanya karena keegoisan dari keduanya atau salah satu, dampaknya dirasakan oleh anaknya. Sebut saja keadaaan broken home. Tujuan hidup bahagia tidak terpenuhi begitu pula hak seorang anak. Yang seharusnya potret kedua orang tua menjadi teladan bagi si anak, perseteruan dan perdebatan menjadi makanan sehari-hari sang anak. Jelas hal ini mempengaruhi perkembangan psikis seorang anak. Maka tidak heran jika seorang anak dari brokenhome cenderung mencari sebuah pelarian. Misal saja, sering menghabiskan waktu di internet, bergaul dengan preman, yang jelas mencari sesuatu untuk melupakan kepenatan di rumah, tempat yang seharusnya menjadi ruang untuk kembali. Hingga akhirnya terlahirlah anak-anak nakal, anak-anak homeless, anak-anak yang tidak tahu kemana ia harus melangkah untuk kehidupan esok. Selanjutnya sebuah kekacauan dalam keluarga tersebut dapat berakibat tidak ada atau kurangnya perhatiannya kedua orangtua terhadap pemahaman dan pergaulan seorang anak. Yang mana dapat berakibat pada insiden-insiden yang disebutkan pada alenia pertama. Disini dapat disimpulkan bagaimana pupusnya sebuah cinta dapat merusak dan menghancurkan sebuah pribadi, sama artinya telah menghancurkan harapan seorang anak bangsa.

Lalu bagaimana mengatasi pupusnya sebuah cinta? Kita tidak pernah bisa memutar waktu. Jika kita adalah korban, yang bisa kita lakukan adalah berusaha agar hal itu tidak terulang lagi, berusaha bagaimana agar keegoisan kita tidak berdampak pada satu pribadi selanjutnya, berusaha memutuskan rantai penghancur. Suatu kewajaran jika suatu saat nanti, diluar kendali kita memperlakukan seorang anak seperti halnya orangtua memperlakukan kita. Jika kita memang tidak mendapatkan ilmu parenting dari mereka, bukan berarti kita hopeless. Ilmu parenting dapat dicari, dapat dipelajari dari buku-buku maupun kehidupan orang lain. Yang jelas kita tidak memiliki hak untuk menghancurkan kehidupan baru.

"Sebuah Peradaban sejatinya dimulai dari peradaban kecil bernama keluarga. Jika ingin membangun sebuah peradaban, mulai lah dari membangun keluarga, membangun jasad dan ruh keluarga." (kutipan dari https://dianramadhani.wordpress.com/2016/11/06/membangun-peradaban-sebuah-refleksi-diri-nhw3iip/)

Tuesday, May 2, 2017

Triangular Love

Menurut Robert Sternberg, seorang psikolog dan peneliti yang mendalami kecerdasan (IQ), hubungan interpersonal memiliki tiga komponen yaitu: intimacy, passion dan commitment.
Intimacy mengacu pada kehangatan, kedekatan dan hal berbagi dalam suatu hubungan.
Passion mencakup dorongan-dorongan, termasuk daya tarik seksual.
Commitment adalah keinginan serta kesungguhan untuk memelihara hubungan meskipun penuh kesulitan dan pengorbanan.
Dari ketiga komponen tersebut, hubungan cinta dapat dibedakan sebagai berikut:
  1. Non love (tanpa cinta). Hubungan yang sama sekali tanpa dilandasi cinta. Terjadi sebagian pada hubungan interaksi manusia saat bertemu di sekolah, kampus, kantor atau jalan raya.
  2. Liking/friendship (persahabatan). Tidak ada rasa lebih yang muncul selain untuk berbagi kehangatan, kedekatan, perasaan terikat satu sama lain (intimacy), tanpa ada keinginan untuk melakukan hal-hal yang lebih intim atau memunculkan komitmen.
  3. Infatuated love (cinta tergila-gila). Cinta yang didasari pada hasrat, gairah yang menyala-nyala (terutama akibat ketertarikan secara fisik dan seksual/ passion). Tanpa membangun intimacy dan commitment, cinta ini akan cepat padam, bahkan lenyap begitu saja.
  4. Empty love (cinta hampa). Karakter komitmen tanpa sentuhan intimacy dan passion sama sekali. Hanya tanggung jawab yang muncul, tanpa adanya keinginan untuk berbagi dan terikat secara dalam hingga kehati, apalagi adanya hasrat dan gairah.
  5. Romantic love (cinta romantis). Kombinasi intimacy dan passion. Pasangan terikat secara emosional dan fisik, berbagi kehangatan, memiliki gairah tetapi keduanya tidak memiliki komitmen lebih.
  6. Companionate love (cinta sejawat). Lebih erat dari sekedar pertemanan atau persahabatan. Keduanya terikat oleh komitmen jangka panjang. Biasa terjadi pada pernikahan yang telah berlangsung lama, tak lagi muncul passion, tetapi keduanya diikat oleh rasa kasih sayang yang dalam (deep affection) dan keinginan untuk mempertahankan ikatan beserta segala rintangan yang menghadang. Juga muncul pada teman-teman terdekat, lebih dari sekedar persahabatan biasa, tetapi sama sekali tak merasakan arousal atau gairah seksual dalam hubungan mereka. Masing-masing ingin lebih terikat, berbagi, dan memiliki komitmen untuk menanggung kesulitan dan rela berkorban untuk membantu satu sama lain.
  7. Fatuous love (cinta buta). Hubungan yang dilandaskan pada passion dan commitment. Hasrat yang menggebu, gairah yang menyala, keinginan sehidup semati tanpa mengiringi hubungan dengan sesuatu yang lebih intim – keinginan untuk saling berbagi, saling menghangatkan, atau terikat oleh visi dan misi yang mendasari sebuah pernikahan.
  8. Consummate love (cinta sempurna). Hubungan cinta perfect couple (pasangan sempurna). Pasangan ini tak dapat membayangkan akan dapat hidup bahagia bersama orang lain. Meraka tetap bahagia meski menikah bertahun-tahun, berhasil mengatasi berbagai kendala dengan baik, masing-masing saling membahagiakan pasangan. Pernikahan mereka tetap memiliki hasrat dan gairah.

Without expression and action, even the greatest of loves can die (Robert Sternberg)

 Kutipan buku “Kitab Cinta & Patah Hati” by Sinta Yudisia

Thursday, April 27, 2017

Berharap

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Al-Baqarah: 186)

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (Al-Mu’min: 60)

Aku percaya, tiada pengharapan yang sia-sia ketika kita hanya berharap kepada-Nya. Aku selalu bertanya kenapa aku diberikan kehidupan seperti ini. Dan aku menyadari sekarang, semua ini bukan untuk mengeluh atau untuk melontarkan protes kepada-Nya, tapi agar aku senantiasa berharap kepada-Nya, Zat yang berhak seutuhnya atas hidupku ini.

Pernah berkali-kali aku berada di titik terendah, bingung harus kemana mencari solusi, bingung siapa yang bisa menolongku. Beuntung aku masih memiliki nikmat iman. Aku percaya rizki setiap manusia telah diatur oleh-Nya. Seringkali aku tidak memiliki pandangan untuk esok hari karena sebuah keterbatasan. Seringkali juga pertanyaanku dijawab oleh-Nya tanpa terduga, setelah aku mengadu pada-Nya. Pun ketika sebuah keputusan yang harus dipilih, Dia mengirimkan sebuah kemantapan, setelah proses berfikir dan berdoa.

Aku bukanlah manusia tanpa dosa, aku pernah khilaf, aku pernah lalai. Tapi hal ini bukan menjadi alasan aku tidak pantas berharap kepada-Nya. Karena aku percaya Dia Maha Pemaaf, seperti halnya dia memafkan kesalahan Adam dan Hawa, memaafkan kelalaian Nabi Yunus, memafakan kekhilafan Nabi Musa. Aku percaya Dia memaafkan hambanya yang benar-benar bertaubat.

Hidup ini akan terasa mudah ketika setiap detik yang kamu jalani, kau yakini sebagai anugerah dari-Nya. Aku dulu berfikir bahwa hidup yang kujalani adalah sebuah karma, hidupku adalah hukuman. Kini aku sadar begitu banyak nikmanya yang tidak aku hiraukan. Sedikit demi sedikit aku mengurangi keluhanku, aku mecoba melihat nikmat-nikmat yang ia berikan. Sedikit demi sedikit aku percaya untuk bergantung pada harapan-Nya. Dan hingga saat ini aku belum pernah kecewa dengan berharap pada-Nya.

I believe He loves every creature who only hang a hope on Him.