Wednesday, August 24, 2016

Nothing Is Perfect

Aku percaya tidak ada yang sempurna di dunia ini. Meskipun telah saling melengkapi, aku yakin belum memenuhi parameter kesempurnaan. Hingga pada akhirnya sempurna itu menjadi relatif di setiap mata. Ada kalanya kaya harmoni miskin materi, ada kalanya kaya materi miskin harmoni. Ada kalanya sehat ruhani sakit jasmani, ada kalanya sehat jasmani sakit ruhani. Keadaan setiap manusia tidak ada yang tau secara pasti kecuali sang Pencipta. Manusia hanya bisa berargumen dari apa yang terlihat oleh mata, dan yang didengar oleh telinga.

Aku percaya hukum III Newton berlaku dalam kehidupan sehari. Contoh sederhana naluri ingin membalas pukulan setelah dipukul. Orang yang awalnya memukul pun memiliki alasan kenapa dia memukul. Mungkin dia tersinggung dengan perkataan lawan. Lawan pun memiliki alasan kenapa dia sampai mengeluarkan perkataan yang menyinggung. Dan begitulah seterusnya. Seseorang melakukan tindakan karena memiliki alasan. Bahkan seorang bayi yang ingin melakukan sesuatu, karena memiliki alasan. Hanya saja dia tidak tau cara menyampaikan. Yang pada akhirnya membuat bingung manusia dewasa. Yang demikian untuk kasus manusia baru. Berbeda jika seorang dewasa atau cukup umur yang memiliki kekurangan. Ketika seseorang memiliki kekurangan fisik, maka akan mudah peka seseorang sekitar untuk bersimpati. Karena memang kekurangan fisik dapat berdampak pada kejiwaan. Akan tetapi, ketika seseorang memiliki kekurangan pada kejiwaan (dalam artian akal masih sehat), maka jangan berharap mendapat simpati, kecuali dari orang-orang yang telah memahami keadaanmu.

Sejenak mari bermain pelajaran materi peluang. Bila ada tiga koin, dimana setiap koin memiliki dua sisi, sebut saja sisi positif dan sisi negatif. Bila koin pertama (A) diberi nama materi, koin kedua (B) kesehatan dan poin ketiga (C) adalah religi. Maka ada berapa banyak kemungkinan keadaan yang dapat terjadi dari tiga variabel tadi. Cara mudahnya pakai teori bercabang.



Dari pemetaan diatas, didapat 8 keadaan, yaitu
1. Kaya, sehat, religius
2. Kaya, sehat, tidak religius
3. Kaya, sakit, religius
4. Kaya, sakit, tidak religius
5. Miskin, sehat, religius
6. Miskin, sehat, tidak religius
7. Miskin, sakit, religius
8. Miskin, sakit, tidak religius

Yang diatas baru dari pandangan sederhana aspek hidup. Tetapi kenyataannya hidup tak sesimple itu. Jika yang disebutkan diatas adalah kekayaan materi, maka masih ada kekayaan yang tak terlihat yang dapat menyelematkan dari segala pelik masalah kehidupan, yaitu kekayaan hati, atau hati yang lapang. Jika yang diatas disebutkan kesehatan badan, maka kenyataannya banyak sekali penyakit hati yang juga menjerumuskan dalam mengambil sebuah tindakan. Dan masih ada lagi penyakit psikis yang juga tidak kasat mata. Dan poin ketiga, untuk poin ini memang agak riskan, manusia hanya bisa melihat sisi religius seseorang dari aktifitas yang terlihat. Jika boleh berpendapat, kereligiusan seseorang terletak pada hati, yang dimana manusia tidak bisa menjudge berdasarkan yang dilihat, manusia hanya bisa menilai dan berprasangka. Tapi pada poin inilah titik balik dari segala permasalahan, dimana hanya manusia dan tuhannya, manusia sebagai makhluk individualis, manusia yang pasti kembali kepada pemiliknya.

Kembali pada macam-macam keadaan hidup. Coba saja ditambahkan variabel harmonis, maka akan tambah lagi 8 keadaan. Jika poin kesehatan dipecah menjadi kesehatan raga dan kesehatan jiwa, maka macam keadaan akan menjadi 32 keadaan. Dan masih banyak lagi poin-poin lainnya. Pada intinya lihatlah sekitarmu, perhatikannlah. Tidak ada yang sempurna, setiap manusia memiliki cacat entah itu terlihat atau tidak. Jangan menilai mentah-mentah peringai seseorang, jangan cepat-cepat menjudge perilaku seseorang. Berfikirlah beribu kemungkinan mengapa sikap seseorang seperti itu. Mungkin itu adalah reaksi dari keadaan-keadaan negatif itu. Perlu diketahui lagi, cacat tersebut dapat dikarenakan orang lain, dapat juga dikarenakan kelalaian diri. Pastikanlah dirimu tidak cacat karena ulahmu. Jika dirimu mengalami cacat karena orang lain, kembalilah pada Sang Pencipta, tanyakanlah mengapa hidupmu seperti itu. Dia-lah Sang penulis skenario hidup terbaik, Dia lebih tahu mana yang terbaik untuk mahluknya.

No comments:

Post a Comment