Sunday, August 21, 2016

Try to Speak with Ethics

Berbicara merupakan metode utama dalam berkomunikasi. Merupakan alat utama untuk menjalin interaksi dengan sesama manusia. Metode berbicara ini pun yang dijadikan senjata utama untuk mempromosikan aset-aset oleh para pem-promo. Kecakapan berbicara perlu senantiasa diasah untuk menghindari penangkapan beda makna oleh pendengar. Karena seorang yang telah cakap berbicara pun masih memiliki probabilitas adanya salah pemilihan kata saat berbicara.
Berani berbicara atau beropini bukan berarti dia lebih pintar atau lebih cerdas ataupun pandai dibanding yang lain. Tetapi dia memiliki kelebihan, yaitu keberanian itu sendiri. Dia memiliki keberanian untuk mencoba belajar menguji kecakapannya mengungkapkan opini dan berani menerima timbal balik dari opini yang diungkapkan. Saat seseorang memutuskan untuk mengungkapkan opininya, maka praktis ada dua tanggapan, yaitu diterima atau ditolak oleh audiens secara logis -dalam hal ini tidak membahas tanggapan-tanggapan yang tidak logis-. Tanggapan yang mengiyakan akan menambah kepercayaan diri si pengungkap, sementara tanggapan yang menolak merupakan tantangan bagi si pengungkap untuk terus memperbaiki opini-opininya.
Sayangnya, tidak semua orang bisa menghargai pendapat orang lain. Seseorang yang beretika tidak akan dengan sembarang memotong opini orang lain, melainkan seharusnya dengan legowo akan mendengarkan dengan baik opini tersebut, baru  kemudian memberikan sanggahan yang mengkoreksi opini tersebut. Dalam sebuah diskusi yang sehat haruslah ada sikap saling menghargai opini. Jika opini tersebut diungkapkan secara logis dengan sebuah dasar, mpnyanggah pun haruslah menyanggah secara logis pula, jika si penyanggah masih ingin disebut sportif, dalam artian tidak menampakkan emosi. Tanggapan-tanggapan yang tidak sportif inilah yang dapat menimbulkan konflik batin, yang pada ujungnya akan tercipta persaingan atau permusuhan di luar diskusi. Sehingga banyak dijumpai permusuhan berawal dari adu opini. Dalam diskusi yang sehat, seharusnya hal tersebut tidak akan terjadi. Sama-sama sebagai pelontar opini yang beretika, seharusnya yang diserang adalah opininya, bukan orangnya. Sehingga di luar diskusi tersebut tidak akan tercipta perang batin.
Poin penting dalam hal ini adalah berbicara dengan etika merupakan salah satu pendidikan karakter. Keberanian untuk berbicara dapat dijadikan sebagai tolak ukur mental seseorang. Bagaimana seseorang itu menanggapi tanggapan negatif, tentu menguji mental seseorang. Apakah orang tersebut masih dapat bertahan dengan opininya atau tidak. Seperti halnya dimana pendidikan karakter seseorang itu dimulai, yaitu ranah keluarga. Jika seorang anak telah dibiasakan bebas mengungkapkan pendapatnya disertai arahan dari sang orang tua, tentulah akan terbentuk mental keberanian pada diri anak tersebut. Sebaliknya jika seorang anak dibiasakan tidak boleh berpendapat, tidak boleh menganggu gugat keputusan sang orang tua, maka anak tersebut akan selalu merasa tidak memiliki hak untuk berpendapat sekalipun di depan publik.
Akan tetapi teori diatas tentu tidak dapat dijadikan sebagai patokan alasan mengapa  seseorang aktif berbicara atau bersifat pendiam. Hanya menjelaskan salah satu faktor besar pembentukan karakter seserang, sesuai apa yang ia terima dari pendidikan keluarga. Akan teteapi, sebagai manusia dewasa yang telah mampu berfikir dan bertanggung jawab atas dirinnya sendiri, seharusnya ia tahu kemana harus membawa dirinya. Tempat belajar manusia yang sesungguhnya adalah dalam interaksi bermasyarakat. Sebelum benar-benar terjun ke medan tersebut, alangkah baiknya mempersiapkan diri dengan terus belajar untuk berbicara dengan etika yang baik. Karena modal utama terjadi interaksi yang baik adalah komunikasi dengan berbicara yang baik pula.

Hargailah orang yang berbicara, jika ingin bicaramu dihargai.

Jagalah etika bicaramu, karena karakter dapat dilihat dari bagaimana ia berbicara.

-June 2014-

No comments:

Post a Comment