Berbicara merupakan metode utama dalam
berkomunikasi. Merupakan alat utama untuk menjalin interaksi dengan sesama
manusia. Metode berbicara ini pun yang dijadikan senjata utama untuk
mempromosikan aset-aset oleh para pem-promo. Kecakapan berbicara perlu
senantiasa diasah untuk menghindari penangkapan beda makna oleh pendengar.
Karena seorang yang telah cakap berbicara pun masih memiliki probabilitas
adanya salah pemilihan kata saat berbicara.
Berani berbicara atau beropini bukan berarti
dia lebih pintar atau lebih cerdas ataupun pandai dibanding yang lain. Tetapi
dia memiliki kelebihan, yaitu keberanian itu sendiri. Dia memiliki keberanian
untuk mencoba belajar menguji kecakapannya mengungkapkan opini dan berani
menerima timbal balik dari opini yang diungkapkan. Saat seseorang memutuskan
untuk mengungkapkan opininya, maka praktis ada dua tanggapan, yaitu diterima
atau ditolak oleh audiens secara logis -dalam hal ini tidak membahas tanggapan-tanggapan
yang tidak logis-. Tanggapan yang mengiyakan akan menambah kepercayaan diri si
pengungkap, sementara tanggapan yang menolak merupakan tantangan bagi si
pengungkap untuk terus memperbaiki opini-opininya.
Sayangnya, tidak semua orang bisa menghargai
pendapat orang lain. Seseorang yang beretika tidak akan dengan sembarang
memotong opini orang lain, melainkan seharusnya dengan legowo akan mendengarkan
dengan baik opini tersebut, baru kemudian memberikan sanggahan yang mengkoreksi
opini tersebut. Dalam sebuah diskusi yang sehat haruslah ada sikap saling
menghargai opini. Jika opini tersebut diungkapkan secara logis dengan sebuah
dasar, mpnyanggah pun haruslah menyanggah secara logis pula, jika si penyanggah
masih ingin disebut sportif, dalam artian tidak menampakkan emosi.
Tanggapan-tanggapan yang tidak sportif inilah yang dapat menimbulkan konflik
batin, yang pada ujungnya akan tercipta persaingan atau permusuhan di luar
diskusi. Sehingga banyak dijumpai permusuhan berawal dari adu opini. Dalam
diskusi yang sehat, seharusnya hal tersebut tidak akan terjadi. Sama-sama
sebagai pelontar opini yang beretika, seharusnya yang diserang adalah opininya,
bukan orangnya. Sehingga di luar diskusi tersebut tidak akan tercipta perang
batin.
Poin penting dalam hal ini adalah
berbicara dengan etika merupakan salah satu pendidikan karakter. Keberanian
untuk berbicara dapat dijadikan sebagai tolak ukur mental seseorang. Bagaimana
seseorang itu menanggapi tanggapan negatif, tentu menguji mental seseorang.
Apakah orang tersebut masih dapat bertahan dengan opininya atau tidak. Seperti
halnya dimana pendidikan karakter seseorang itu dimulai, yaitu ranah keluarga.
Jika seorang anak telah dibiasakan bebas mengungkapkan pendapatnya disertai
arahan dari sang orang tua, tentulah akan terbentuk mental keberanian pada diri
anak tersebut. Sebaliknya jika seorang anak dibiasakan tidak boleh berpendapat,
tidak boleh menganggu gugat keputusan sang orang tua, maka anak tersebut akan
selalu merasa tidak memiliki hak untuk berpendapat sekalipun di depan publik.
Akan tetapi teori diatas tentu tidak
dapat dijadikan sebagai patokan alasan mengapa seseorang aktif berbicara atau bersifat
pendiam. Hanya menjelaskan salah satu faktor besar pembentukan karakter
seserang, sesuai apa yang ia terima dari pendidikan keluarga. Akan teteapi, sebagai
manusia dewasa yang telah mampu berfikir dan bertanggung jawab atas dirinnya
sendiri, seharusnya ia tahu kemana harus membawa dirinya. Tempat belajar
manusia yang sesungguhnya adalah dalam interaksi bermasyarakat. Sebelum
benar-benar terjun ke medan tersebut, alangkah baiknya mempersiapkan diri
dengan terus belajar untuk berbicara dengan etika yang baik. Karena modal utama
terjadi interaksi yang baik adalah komunikasi dengan berbicara yang baik pula.
Hargailah
orang yang berbicara, jika ingin bicaramu dihargai.
Jagalah
etika bicaramu, karena karakter dapat dilihat dari bagaimana ia berbicara.
-June 2014-
No comments:
Post a Comment