Saat
beranjak dewasa, manusia belajar untuk mengambil keputusan atas dirinya
sendiri. Sebenarnya dimanakah tolak ukur kedewasaan seseorang? Saat sudah
seperti apakah seseorang dikatakan dewasa? Seperti apakah pemikiran orang
dewasa itu? Aku sendiri pun masih belum memahaminya.
Apakah
prinsip itu? Jika dalam suatu sistem alat, selalu ada prinsip kerjanya. Prinsip
kerja berarti alur sistem atau paten bagaimana alat itu bekerja. Bagaimanakah
dengan prinsip dalam diri seseorang. Prinsip atau pendirian seseorang terbentuk
dengan seiring berjalannya waktu, seiring dengan banyaknya momentum yang
terjadi dalam hidupnya. Saat manusia dihadapkan dengan suatu masalah, otak pun
merespon dengan sebuah tindakan. Manusia harus bertindak dalam menyikapi setiap
masalah untuk mempertahankan harga diri, saat tak ada lagi tempat bergantung,
sehingga terbentuklah sebuah pendirian atau prinsip dari dalam diri. Muncullah
tekad aku harus begini aku harus begitu, yang pastinya dari keputusan tersebut
ada konsekuensinya. Pasti ada timbal balik dari setiap keputusan yang diambil.
Saat
manusia telah berani berprinsip, ternyata tidak selamanya prinsip itu dapat
diterima oleh yang lain. Disinilah fungsi menghargai dalam bersosialisasi,
karena prinsip bukanlah sebuah keputusan yang terbentuk seketika waktu. Ada
proses ada alasan bagaimana prinsip tersebut terbentuk dalam diri seseorang.
Lalu adakah yang salah saat manusia menyatakan prinsipnya? Lalu haruskah
manusia merubah prinsipnya, saat prinsip itu ada yang tidak menerimanya?
Mungkin haruslah dirubah, kalo saja dengan prinsip itu ada pihak yang merasa
dirugikan. Disinilah peran mental seseorang. Mental dibutuhkan untuk
mempertahankan prinsip yang telah melekat dalam diri, saat dunia luar tak
menerima keputusan yang diambil. Saat mental seseorang dalam keadaan krusial
atau memang mental itu tidak dibentuk sejak kecil, maka seseorang akan dengan
mudahnya terombang ambing dalam kebimbangan, tidak teguh dengan prinsip.
Sepanjang
hidup manusia memanglah belajar. Konotasi belajar bukan berarti duduk dibangku
dan mencoba memahami teori-teori. Ilmu tidak hanya ilmu pelajaran. Belajar yang
nyata adalah mencoba memahami segala apa yang ada disekitar kita. Apalah arti
memahami segala teori tetapi tidak memahami segala yang berinteraksi dengan
kita setiap harinya.
September 2014
No comments:
Post a Comment