Sunday, August 21, 2016

PARADIGMA THR (Tahta, Harta, Rupa)

            Tiga hal yang tidak pernah lepas dari sorot mata setiap manusia, mendapatkan kedudukan setinggi-tingginya, menjadi seorang hartawan, dan memiliki paras yang rupawan. Banyak aspek dalam kehidupan ini yang tidak lagi memperhitungkan kualitas, melainkan mengacu pada ketiga paradigma tersebut. Ketamakan manusia terhadap ketiga paradigma itulah, yang merupakan salah satu penyebab kehidupan di dunia ini tak lagi nyaman dijalani, seakan keadilan sulit didapatkan.

Tahta

Tahta adalah tempat singgasana seorang raja, kedudukan tertinggi dalam suatu pemerintahan kekerajaan. Semua orang pun punya ambisius untuk memiliki kedudukan itu, karena akan dianggap sebagai orang yang sangat berpengaruh, dihormati, dan memiliki kekuasaan untuk mengendalikan. Tak lain adalah seorang pemimpin. Dalam kenyataan ini tidak sedikit ambisi untuk menjadi pemimpin bukan lagi karena landasan fungsi dari seorang pemimpin itu sendiri. Terlihat jelas pemilihan pemimpin kini tak lagi bersih, banyak terjadi penyuapan kepada calon pemilih, sekalipun itu hanya pemilihan lurah desa.

Sepertinya dalam kehidupan ini tahta menjadi sistem kasta, seakan terbentuk sekat batas antara petinggi dan bawahan. Bawahan pun tak dapat secara bebas berinteraksi dengan petinggi. Aspirasi para rakyat kecil pun hanya seperti angin yang berlalu begitu saja. Jika ada satu pihak yang melawan penyelewengan petinggi itu, maka akan segera dimusnahkan. Penyelewengan itu pun kini tak hanya dapat dipraktikkan oleh petinggi lapisan atas. Para ketua RT pun dapat mempraktikkannya. Sepertinya tanpa disadari pemerintahan (yang katanya) demokrasi ini lambat laun akan bertransformasi ke okhlorasi seperti halnya dalam teori polybios.

Harta

Dahulu harta untuk menjalani hidup, tapi kini telah bertransformasi menjadi hidup untuk mencari harta. Sepertinya semua manusia akan mudah dibutakan oleh harta. Terbukti terjadinya aksi korupsi dari para pemimpin.  Sepertinya ambisi untuk mendapatkan tahta pun tidak cukup. Harta pun dapat seketika merapuhkan pasal undang-undang tentang hukum, dapat dengan mudah menerobos gerbang perguruan tinggi, dapat pula mudah menerobos prosedur dalam pelamaran pekerjaan. Dengan harta pula, dapat dengan mudah menutupi kebobrokan para oknum yang tidak bertanggung jawab dari mata media.

Dalam bidang sosial pun terjadi kesenjangan sosial akibat kepemilikan harta. Terbentuklah kalangan borjuis dan proletar. Entah apa alasannya, kalangan borjuis lebih dipandang elegan dan pantas dihormati. Lagi-lagi nilai keseganan bergeser, bukan lagi karena orang itu pantas dihormati atas jasa dan keteladanannya. Lantas dalam hubungan sosial pun terbentuk batas interaksi. Tidak sedikit para orang tua yang melarang anaknya bergaul dengan anak miskin maupun yatim piatu, karena dianggap hina dan kumuh. Dan para orang tua itu pun sepertinya tidak ingin anaknya tertular oleh kehinaan dan kekumuhan itu. Lagi-lagi harta mudah sekali menjerumuskan manusia dalam kesombongan. Terlihat pula kesenjangan antara orang yang gaptek dan yang update teknologi. Tak sedikit komunitas-komunitas yang mewajibkan anggotanya update teknologi. Lagi-lagi hanya golongan borjuis yang dapat bergabung.

Rupa

Manusia mana yang tidak ingin terlihat rupawan. Ambisi inilah yang mengakibatkan manusia mengingkari ciptaan-Nya, merelakan mengeluarkan banyak uang untuk merubah salah satu bagian dari tubuhnya untuk mendapatkan penampilan yang dapat manarik perhatian semua mata. Lagi-lagi ambisi harta tidaklah cukup.

Penampilan menarikpun dapat menggeser nilai kualitas. Terlihat dari salah satu syarat pada umumnya pelamar kerja adalah berpenampilan menarik. Karena mungkin semua ketertarikan mata konsumen diawali dari ketertarikan terhadap pelayannya, sebelum mereka tertarik pada produknya.

Paradigma rupa ini lebih terlihat jelas dalam ranah hiburan, karena memang yang mereka jual adalah kecantikan/ketampanan mereka. Ada pula kontes kecantikan yang (menurutku) tidak jelas apa visi dan misinya. Kini banyak produk musik yang hanya mengedepankan rupa artisnya, kualitas dari musik itu sendiri pun dinomerduakan. Tidak sedikit para peminat musik yang lebih tertarik karena paras si artisnya. Seandainya saja penghibur dalam suatu orkes (sebut saja orkes melayu) memiliki paras jelek, masihkah para hidung belang itu maju kedepan panggung menyodorkan uang?

Dalam pergaulan pun terjadi pula kesenjangan karena rupa. Tidak jarang pertemanan yang memandang rupa. Seakan yang berparas tidak menawan tidak pantas berbaur dengan yang rupawan. Entah apa alasannya, orang yang berpenampilan menarik dan modis akan mudah membaur dalam suatu komunitas. Lagi-lagi modis hanya dimiliki oleh para golongan borjuis.


            Dalam kehidupan ini jika ketiga paradigma tersebut bersatu, seakan hidup itu sempurna, lantas mengantarkan manusia kedalam kesombongan. Lalu apalah arti tercapainya ketiga ambisi tersebut jika jalan yang ditempuh melampaui batas yang telah digariskan oleh Sang Pencipta. Begitu mudahkah mata manusia dibutakan? Bukankan hidup didunia ini hanya sementara. Semua yang kita lakukan pastilah akan dimintai pertanggungjawaban. Manusia tidak akan pernah bisa lepas dari hukum Sang Pencipta. Kenapa tidak memilih menjadi pemimpin yang amanah, menjadi hartawan yang dermawan, dan menjadi rupawan karena akhlaknya?

-May 2014-

No comments:

Post a Comment