Tiga hal yang tidak pernah lepas dari sorot mata setiap
manusia, mendapatkan kedudukan setinggi-tingginya, menjadi seorang hartawan,
dan memiliki paras yang rupawan. Banyak aspek dalam kehidupan ini yang tidak
lagi memperhitungkan kualitas, melainkan mengacu pada ketiga paradigma
tersebut. Ketamakan manusia terhadap ketiga paradigma itulah, yang merupakan
salah satu penyebab kehidupan di dunia ini tak lagi nyaman dijalani, seakan
keadilan sulit didapatkan.
Tahta
Tahta adalah tempat
singgasana seorang raja, kedudukan tertinggi dalam suatu pemerintahan
kekerajaan. Semua orang pun punya ambisius untuk memiliki kedudukan itu, karena
akan dianggap sebagai orang yang sangat berpengaruh, dihormati, dan memiliki
kekuasaan untuk mengendalikan. Tak lain adalah seorang pemimpin. Dalam
kenyataan ini tidak sedikit ambisi untuk menjadi pemimpin bukan lagi karena landasan
fungsi dari seorang pemimpin itu sendiri. Terlihat jelas pemilihan pemimpin
kini tak lagi bersih, banyak terjadi penyuapan kepada calon pemilih, sekalipun
itu hanya pemilihan lurah desa.
Sepertinya dalam kehidupan
ini tahta menjadi sistem kasta, seakan terbentuk sekat batas antara petinggi
dan bawahan. Bawahan pun tak dapat secara bebas berinteraksi dengan petinggi.
Aspirasi para rakyat kecil pun hanya seperti angin yang berlalu begitu saja. Jika
ada satu pihak yang melawan penyelewengan petinggi itu, maka akan segera
dimusnahkan. Penyelewengan itu pun kini tak hanya dapat dipraktikkan oleh
petinggi lapisan atas. Para ketua RT pun dapat mempraktikkannya. Sepertinya
tanpa disadari pemerintahan (yang katanya) demokrasi ini lambat laun akan
bertransformasi ke okhlorasi seperti halnya dalam teori polybios.
Harta
Dahulu harta untuk menjalani
hidup, tapi kini telah bertransformasi menjadi hidup untuk mencari harta.
Sepertinya semua manusia akan mudah dibutakan oleh harta. Terbukti terjadinya
aksi korupsi dari para pemimpin.
Sepertinya ambisi untuk mendapatkan tahta pun tidak cukup. Harta pun
dapat seketika merapuhkan pasal undang-undang tentang hukum, dapat dengan mudah
menerobos gerbang perguruan tinggi, dapat pula mudah menerobos prosedur dalam
pelamaran pekerjaan. Dengan harta pula, dapat dengan mudah menutupi kebobrokan
para oknum yang tidak bertanggung jawab dari mata media.
Dalam bidang sosial pun
terjadi kesenjangan sosial akibat kepemilikan harta. Terbentuklah kalangan
borjuis dan proletar. Entah apa alasannya, kalangan borjuis lebih dipandang
elegan dan pantas dihormati. Lagi-lagi nilai keseganan bergeser, bukan lagi
karena orang itu pantas dihormati atas jasa dan keteladanannya. Lantas dalam
hubungan sosial pun terbentuk batas interaksi. Tidak sedikit para orang tua
yang melarang anaknya bergaul dengan anak miskin maupun yatim piatu, karena
dianggap hina dan kumuh. Dan para orang tua itu pun sepertinya tidak ingin
anaknya tertular oleh kehinaan dan kekumuhan itu. Lagi-lagi harta mudah sekali
menjerumuskan manusia dalam kesombongan. Terlihat pula kesenjangan antara orang
yang gaptek dan yang update teknologi. Tak sedikit komunitas-komunitas yang
mewajibkan anggotanya update teknologi. Lagi-lagi hanya golongan borjuis yang
dapat bergabung.
Rupa
Manusia mana yang tidak ingin
terlihat rupawan. Ambisi inilah yang mengakibatkan manusia mengingkari
ciptaan-Nya, merelakan mengeluarkan banyak uang untuk merubah salah satu bagian
dari tubuhnya untuk mendapatkan penampilan yang dapat manarik perhatian semua
mata. Lagi-lagi ambisi harta tidaklah cukup.
Penampilan menarikpun dapat
menggeser nilai kualitas. Terlihat dari salah satu syarat pada umumnya pelamar
kerja adalah berpenampilan menarik. Karena mungkin semua ketertarikan mata
konsumen diawali dari ketertarikan terhadap pelayannya, sebelum mereka tertarik
pada produknya.
Paradigma rupa ini lebih terlihat
jelas dalam ranah hiburan, karena memang yang mereka jual adalah
kecantikan/ketampanan mereka. Ada pula kontes kecantikan yang (menurutku) tidak
jelas apa visi dan misinya. Kini banyak produk musik yang hanya mengedepankan
rupa artisnya, kualitas dari musik itu sendiri pun dinomerduakan. Tidak sedikit
para peminat musik yang lebih tertarik karena paras si artisnya. Seandainya
saja penghibur dalam suatu orkes (sebut saja orkes melayu) memiliki paras
jelek, masihkah para hidung belang itu maju kedepan panggung menyodorkan uang?
Dalam pergaulan pun terjadi
pula kesenjangan karena rupa. Tidak jarang pertemanan yang memandang rupa. Seakan
yang berparas tidak menawan tidak pantas berbaur dengan yang rupawan. Entah apa
alasannya, orang yang berpenampilan menarik dan modis akan mudah membaur dalam
suatu komunitas. Lagi-lagi modis hanya dimiliki oleh para golongan borjuis.
Dalam kehidupan ini jika ketiga paradigma tersebut
bersatu, seakan hidup itu sempurna, lantas mengantarkan manusia kedalam
kesombongan. Lalu apalah arti tercapainya ketiga ambisi tersebut jika jalan yang
ditempuh melampaui batas yang telah digariskan oleh Sang Pencipta. Begitu
mudahkah mata manusia dibutakan? Bukankan hidup didunia ini hanya sementara.
Semua yang kita lakukan pastilah akan dimintai pertanggungjawaban. Manusia
tidak akan pernah bisa lepas dari hukum Sang Pencipta. Kenapa tidak memilih
menjadi pemimpin yang amanah, menjadi hartawan yang dermawan, dan menjadi
rupawan karena akhlaknya?
-May 2014-
No comments:
Post a Comment